Senin, 21 Juni 2010

Manajemen Hidup

MANAJEMEN HIDUP SEORANG MUSLIM
Oleh : Imron Zabidi, MA, M.Phil
Kandidat Doktor
AlDakwah.com - " Mengapa kamu kafir kepada Allah padahal kamu tadinya mati lalu Allah menghidupkan kamu kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan kembali kemudian kepada-Nya kamu dikembalikan " (QS Al Baqarah : 28).

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Imam Al Fakh Al Razi mengatakan bahwa hidup adalah nikmat pertama yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada manusia sebelum nikmat lainnya termasuk nikmat iman lantaran tanpa kehidupan maka nikmat lain tak bisa diperolehnya. Karena itulah maka nikmat hidup harus disyukuri dengan memberdayakan-nya dan dikelola secara baik sehingga memiliki makna dan nilai positif semaksimal mungkin.
Pemberdayaan dan pemaknaan hidup tersebut diidentifikasikan oleh Allah sebagai 'imaratul ard' (pemakmuran dunia) sebagai tugas manusia di muka bumi dalam dimensinya yang amat luas meliputi pembangunan masyarakat manusia yang kuat dan sehat secara fisik dan ruhani. Tugas mulia ini ditegaskan oleh Allah di dalam Alqur'an :
"Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu yang melakukan pemakmurannya…" (QS Hud : 61).
Inilah tugas membangun peradaban Rabbani yang menjadikan peradaban agar relevan dan mengandung nilai dan tuntunan Allah yang mampu memciptakan kebahagiaan bagi manusia dalam kehidupan di dunia dan di akherat kelak serta sebagai sarana mencapai puncak tujuan hidup manusia yaitu ibadah kepada Allah SWT :
"Dan tidaklah Kami ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah" ( QS Al Dzariyat : 56).
Setiap manusia pasti mengharapkan peran positif dalam membangun peradaban tersebut yang mengantarkannya kepada kebahagiaan dalam hidupnya baik di dunia maupun di akherat kelak. Lantaran kehidupan akherat seseorang merupakan natijah dan dampak dari kehidupan dunia maka kehidupan dunia menjadi sangat berarti dan penting karena merupakan modal utama yang sangat berharga bagi manusia dalam pencapaian dua kebahagiaan sekaligus.
Agar pemberdayaan kehidupan dunia menjadi efisien dan tepat sasaran maka kehidupan seseorang harus dikelola secara baik dan dipersiapkan dengan matang. Di Dalam Alqur'an Allah memerintahkan orang Islam agar merencanakan dan mempersiapkan masa depan dalam firman-Nya :
" Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatiakan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan " (QS Al Hasyr : 18).
Dalam beberapa hadits, Rasulullah saw sangat menekankan kepada optimalisasi dan maksimalisasi pemberdayaan hidup lantaran umur adalah modal utama yang apabila telah lewat maka tidak mungkin kembali lagi, antara lain :
'Siapkanlah lima hal sebelum datangnya lima hal : hidupmu sebelum matimu, masa mudamu sebelum masa tuamu, masa senggangmu sebelum masa sibukmu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu dan masa kayamu sebelu masa miskinmu' (HR Tirmidzi).
Manajemen Pemberdayaan Hidup

Ada sebuah ungkapan manajemen yang menarik :

'Think globally and act locally' :
Berpikirlah secara global dan bertindaklah secara lokal.

Ungkapan tersebut relevan untuk diaplikasikan dalam persepsi Islam tentang tujuan hidup manusia yang menjadikan hidupnya secara global untuk beribadah kepada Allah dalam pengertiannya yang luas.
Kemudian persepsi ibadah global tersebut diimplementasikan dalam kehidupan keseharian baik dalam kapasitasnya sebagai pribadi, dalam hubungan horizontal dengan masyarakat atau dalam hubungan vertikal dengan Allah SWT. Implementasi tersebut akan menjadi efisien dan bermakna manakala dilakukan dengan manajemen yang baik. Dalam hal ini ada dua langkah utama yang perlu diperhatikan dan ditempuh yaitu internalisasi dan sosialisasi.
Pertama : Internalisasi

Maksudnya adalah integralisasi agama dengan segala aspeknya dalam diri seorang muslim sehingga secara substantif ia menjadi seorang mukmin yang berkwalitas.
Dalam rangka mencapai sasaran tersebut diperlukan upaya-upaya berikut:
a. Peningkatan Kwalitas Ruhani

Ruhani merupakan aspek terpenting dalam diri manusia karena ia merupakan ciri spesifik manusia yang membedakannya dari hewan dan ia merupakan sentra dan induk serta motor penggerak bagi dua aspek lainnya yaitu intelektualitas dan jasmani. Peningkatan kwalitas ruhani dilakukan dengan tujuan agar manusia tetap terpelihara dalam posisi kemanusiaannya yang secara fitri cenderung dan berpihak kepada segala bentuk kebenaran yang berpuncak kepada Allah Dzat Yang Maha Benar. Lantaran itu maka upaya utama peningkatan kwalitas ruhani adalah 'tazkiyatun nafs' (pembersihan jiwa) yang meliputi dua dimensi :
Pertama : Dimensi Tahalli, yaitu penghiasan, pembekalan dan pengembangan nilai-nilai positif dalam jiwa manusia melalui peningkatan implementasi segala perintah dan anjuran Allah serta aktualisasi jiwa manusia dengan segala sifat positif dan akhlak mulia. Shalat, zakat, puasa, dzikir dan amalan saleh lainnya manakala dilakukan dengan baik dan benar akan menjadi sarana yang efektif bagi tazkiyatun nafs. Dalam shalat, misalnya, seorang muslim melakukan sujud dengan penuh kerendahan di hadapan Allah Yang Maha Besar. Amalan ini akan melahirkan sikap tawadu' dan menghilangkan sikap takabur dari dalam hati dan ruhaninya.
Kedua : Dimensi Takhalli, yaitu pengosongan dan pembersihan jiwa manusia dari segala nilai-nilai negatif dengan meninggalkan segala larangan Allah dan menjauhkan segala sifat negatif dan akhlak buruk seperti sombong, dengki, kikir dan lainnya.
Manakala tazkiyatun nafs dilakukan secara berkesinambungan dalam kehidupan seseorang maka hal tersebut akan melahirkan beberapa hal positif, antara lain :
1. Komunikasi yang kuat dengan Allah SWT dan hubungan yang dekat dengan-Nya yang ditengarai dengan sensitifitas ruhani yang tinggi sehingga ia akan selalu dekat dengan Allah dan cepat merespon keinginan-Nya serta jauh dari laranganan-Nya.
2. Adanya perasaan diri selalu dalam muraqabah (monitoring) Allah yang menyebabkan seseorang senantiasa takut melakukan hal-hal negatif.
3. Hati yang ikhlas dalam beramal karena hanya Allah yang bersemayam di dalam hatinya.
4. Kejujuran dan keseriusan dalam beramal sebab hati yang bersih akan selalu berusaha semakasimal mungkin untuk melakukan amalan dengan benar dan profesional yang pada gilirannya akan meningkatkan pencapaian dan produktifitas amal.
5. Kemampuan dan kesabaran dalam menghadapi segala tantangan dan konsekwensi dari keyakinan dan tindakannya yang dipercayai kebenarannya
b. Peningkatan kwalitas intelektualitas
Peningkatan kwalitas intelektualitas merupakan pendukung bagi peningkatan kwalitas ruhani sehingga kwalitas ruhani bukan sekadar dirasakan dan dihayati tetapi juga bisa difahami oleh diri sendiri dan bisa difahamkan kepada orang lain.
Peningkatan kwalitas aspek intelektualitas ini diperlukan supaya seorang muslim bisa memahami agamanya dengan benar dan secara sadar menyadari tanggung jawabnya terhadap pemahamannya.
Karena itulah Allah banyak mendorong manusia untuk mencari ilmu pengetahuan dan memberdayakan intelektualitasnya dengan melakukan penelitian terhadap alam semesta dan peristiwa-peristiwa peradaban di dalamnya. Allah-pun memuji orang-orang berilmu, yang tentu saja berkewajiban mengamalkan ilmunya, bahkan Allah menegaskan bahwa orang yang berilmulah yang merasa takut kepada Allah :

" Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama " (QS Fathir : 28).
c. Peningkatan kwalitas jasmani
Seperti halnya peningkatan kwalitas intelektualitas, peningkatan kwalitas jasmanipun lebih merupakan pendukung bagi peningkatan kwalitas ruhani dan sekaligus penyokong bagi peningkatan kwalitas intelektual.
Kwalitas jasmani perlu diperhatikan karena manusia terdiri daritiga unsur yaitu jasad, ruh dan akal. Apabila salah satu dari ketiga unsur tersebut tertimpa kerusakan dan disfungsi maka hal itu akan mengganggu unsur lainnya.
Dalam beberapa hadits, Rasulullah saw melakukan aktifitas olah raga dan menganjurkan umatnya untuk melakukannya dalam rangka memelihara dan meningkatkan kekuatan dan daya tahan fisik. Bahkan beliau memuji orang yang lebih kuat fisiknya dengan sabdanya :
" Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari pada orang mukmin yang lemah dan masing-masing memiliki kebaikan'' (HR Muslim).
Kuat dalam hadits tersebut bersifat umum yang meliputi kuat secara fisik.
Dalam melakukan peningkatan kwalitasa aspek-aspek tersebut diperlukan adanya keseimbangan (tawazun).
Perhatian terhadap sebagiannya saja dan menyepelekan bagian lainnya akan berimplikasi munculnya distorsi dalam diri manusia. Sejarah membuktikan bahwa aplikasi keseimbangan dalam diri umat Islam pada masa Rasulullah saw telah melahirkan generasi kokoh dan tangguh dalam sejarah umat manusia yang mampu membangun peradaban Qur'ani yang signifikan yang memberikan kedamaian dan memancarkan rahmat bagi alam semesta.
Kedua : Sosialisasi
Internalisasi yang dilakukan secara maksimal akan melahirkan manusia berkwalitas dan secara logis memberikan hal-hal positif bagi lingkungannya, termasuk masyarakat.
Salah satu bentuk dari hal-hal positif tersebut adalah melakukan sosialisai kepada orang lain tentang berbagai macam kebaikan yang dimiliki dan dirasakan seseorang sebagai hasil dari upaya internalisasi agama.
Dengan demikian ia tidak hanya menjadi shalih untuk dirinya tetapi juga menjadi mushlih bagi orang lain. Dalam ungkapan lain sosialisasi agama tersebut dikenal dengan istilah dakwah. Sosialisasi tuntunan agama menjadi lebih signifikan terutama pada masa globalisasi sekarang ini dimana kemungkaran begitu merajalela, canggih dan mudah diakses. Karena itulah tugas sosialisasi menjadi cukup berat yang konsekwensinya menghendaki agar sosialisasi dilakukan bukan hanya oleh para ulama tetapi oleh semua orang muslim secara pribadi maupun kolektif.
Perbedaan tentang apakah tugas sosialisasi merupakan fardu 'ain atau fardu kifayah, sekalipun secara konsepsional berbeda namun secara implementif dalam realita lapangan tidak banyak berbeda karena tatkala kemungkaran dengan berbagai bentuknya masih ada maka fardu kifayah dalam melakukan sosialisasi tidak pernah tercabut dari pundak setiap muslim.
Tugas sosialisasi merupakan tugas mulia yang amat bernilai bagi kemanusiaan dan peradaban lantaran Islam dengan berbagai dimensi ajarannya merupakan rahmat lil'alamin yang seharusnya dirasakan oleh semua manusia dan menjadi pedoman dalam menjalani kehidupannya sehingga bisa meraih kebahagiaan dunia dan akherat.
Karena itulah Islam mendorong dan bahkan mewajibkan semua orang Islam untuk ikut berpartisipasi dalam mengemban tugas sosialisasi. Tingginya urgensi sosialisasi bisa difahami dari sabda Rasulullah saw kepada Ali bin Abu Thalib ra : " Seseorang yang memperoleh hidayah karena usahamu lebih baik baik kamu dari pada bumi dan isinya".
Suatu hal penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan tugas sosialisasi adalah urutan prioritas objek dakwah. Objek pertama adalah komunitas yang paling dekat yaitu keluarga, baru kemudian masyarakat. Jika setiap muslim berhasil membangun keluarga Islami, setelah pembangunan pribadi Islami, mak akan terbentuklah sebuah masyarakat Islami yang mampu memancarkan rahmat bagi segenap umat manusia.
Wallahu a'lam.-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar